Doctor, should I get married?

Kali ini saya akan memulai postingan saya mengenai suatu kasus dari dosen saya


Beliau berkata bahwa Anda adalah seorang dokter, dan dalam praktik Anda diminta untuk memberikan saran pada seorang wanita yang bimbang untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Berikut data lengkapnya :

Wanita ini berusia 26 th. terbilang cantik dan memiliki pendidikan yang tinggi. kedua orang tuanya menderita penyakit kanker ganas, yaitu ayah dengan kanker kolon/kanker usus yang berakhir meninggal dan Ibu dengan kanker payudara yang juga meninggal di usia 48 tahun.
Pria masih menjalin hubungan yang dekat dengan wanita tersebut, sebut saja mereka berpacaran. pria ini siap menikahi sang wanita bila bersedia. dia berusia 30 tahun, mapan, dan memiliki penghasilan tinggi. riwayat keluarganya sang ayah telah meninggal akibat penyakit lymphoma dan sang kakak saat ini sedang dirawat dengan diagnosis non-hodgkin lymphoma yang sedang menjalani program kemoterapi. mereka hanya dua bersaudara.
Wanita tersebut bertanya, bagaimanakah bila hubungan mereka dilanjutkan ke jenjang pernikahan? perlukah mereka mengurunglan niat demi kebaikan bersama?






Pertama-tama, saya akan mengajak Anda untuk memandang kasus ini dari segi medis terlebih dahulu. sebelum saya membicarakannya lebih jauh, saya akan menyamakan persepsi dengan Anda, para pembaca, bahwa semua kata yang saya tulis dengan format italic pada kasus ini adalah jenis kanker atau tumor ganas -tanpa saya sebutkan diagnosis lengkapnya. kanker tidak hanya ditimbulkan oleh induksi dari luar tubuh manusia saja, tetapi banyak bukti bahwa kasus kanker berkaitan dengan genetik atau dengan kata lain diturunkan. genetik ini berperan dalam pengaturan siklus dan ketahanan seluler manusia. ketika seseorang telah mewarisi gen kanker dari keluarganya, maka ia hanya butuh satu kali pukulan dari faktor pencetus eksternal (e.g. radiasi, infeksi) untuk memunculkan sifat kanker pada tubuhnya. pada kasus kanker payudara, orang yang memiliki 1 garis keturunan di bawah penderita kanker payudara memiliki 4-8 kali risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kanker serupa daripada orang lain yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara. sekarang, bagaimana analisis Anda?

Ketika seseorang mengetahui risiko yang ada dalam dirinya, apapun yang terjadi, dia harus yakin mengenai apa yang akan dilalui. ia bisa memilih untuk menyerah. tetapi, saya percaya bahwa bila seseorang mengikuti kata hati dan memilih untuk bahagia, bagaimana pun perjalanan yang akan ditempuh, maka dia tidak akan menyesal. namun, dengan menurunkan kedua gen kanker kepada anaknya, apakah itu adil? 

ketika seseorang berjuang untuk orang yang disayanginya, maka tak ada kata mustahil. ilmu medis telah mempelajarinya selama bertahun-tahun. mereka bisa mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, menghindari kebiasaan buruk, senantiasa peduli akan kesehatan, hidup bahagia, dan tentunya senantiasa berserah diri pada yang kuasa. saya mengatakannya bukan tanpa alasan mendasar, karena beberapa bahkan hampir semua saran yang saya tuliskan tersebut memiliki arti klinis dalam regulasi tubuh. setidaknya masih ada jalan lain yang dapat dilakukan daripada menyerah. saya tidak ingin pasien-pasien saya hanya takut akan yang namanya penyakit, tapi lebih dari itu saya ingin mereka menikmati hidup dengan penuh makna.

Dokter tidak hanya harus berpikir mengenai apa terjadi dan bagaimana menyembuhkannya, jauh daripada itu, ilmu kedokteran berkembang karena kasih sayang manusia untuk sama-sama mengurangi penderitaan. sudah semestinya para praktisi kesehatan menghormati setiap individu sebagai seseorang yang memiliki kasih sayang dan otonomi atas dirinya. dan bagi saya, apapun keputusan pasien akan tetap saya hormati. tentunya dengan informasi yang memadai bagi mereka untuk memantapkan hati mengambil keputusan yang tepat. keputusan yang tepat bukanlah keputusan untuk memilih A atau B, atau bahkan alternatif C. tetapi keputusan yang tepat adalah keputusan yang sesuai dengan hati nurani berdasarkan kepercayaan masing-masing dan tidak akan menimbulkan penyesalan. mungkin terlihat abstrak, tetapi itulah jawaban saya.




Referensi : 
Robbin & Cotran, Basic Pathology of Disease

Comments

Popular Posts