to care, not to cure
Prinsip dasar ilmu kedokteran adalah cinta - Erick Segal, Doctors
Masih banyak orang yang beranggapan bahwa dokter seharusnya dapat menyembuhkan penyakit, namun kenyataannya tidak demikian. tidak semua penyakit dapat diobati apalagi dokter adalah manusia biasa, yang berusaha semampunya dari ilmu yang dimiliki untuk memberikan kemanfaatan bagi banyak orang dari segi kesehatan. salah, khilaf, lalai, maupun gagal itu sudah pasti pernah dialami. namun, setiap pasien yang datang dengan wajah penuh harapan tidak pernah gagal untuk menyalakan semangat dalam diri kami agar kami terus belajar sehingga kami diberi amanah untuk menjadi pembelajar seumur hidup.
tidak semua keadaan akan menjadi lebih baik dengan sembuh. tugas kami, para dokter, adalah menjadi perantara Tuhan untuk membuat pasien dalam kondisi yang lebih baik dan kondisi yang disebut lebih baik belum tentu dengan mendapat kesembuhan. pasien yang sakit kemudian menjadi sehat memang keadaan yang lebih baik dan hal tersebut adalah apa yang tampak dari sudut pandang kita. tetapi pasien yang kritis kemudian masuk dalam kondisi sakit yang lebih ringan apakah selalu dapat dikatakan lebih baik? misalkan pada kasus ekstrim gagal ginjal kronis grade 5, suatu saat pasien tersebut dalam kondisi kritis, beberapa kali masuk RS dan paramedis selalu berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien tersebut, apabila direlakan dia akan meninggal tetapi bila diusahakan terus untuk hidup maka dia akan dalam keadaan kesakitan yang sangat dalam waktu yang lebih lama. mana yang lebih baik?
Pasien dengan gagal ginjal kronis stadium 5 hampir kehilangan seluruh fungsi ginjalnya, berbagai macam komplikasi berat dapat muncul setelah ginjal rusak, pasien membutuhkan perawatan yang rutin dan berkelanjutan utamanya adalah dialisis yang merupakan satu-satunya harapan untuk memperpanjang usia, kecuali melakukan transplantasi ginjal. Pasien akan mengalami bengkak seluruh tubuh, sering kehilangan kesadaran, kehilangan nafsu makan, dan lemah seluruh tubuh pada tahap serius.
Tubuh manusia diciptakan dalam keadaan yang kompleks dan memiliki kapasitas untuk menahan beban. itu egois bila kita mempertahankan keadaan hidup pasien atas dasar tidak mau menghilangkan kehadiran pasien di sekitar kita atau atas dasar agar kita dicap menjadi dokter yang pintar menyembuhkan sementara beban sakit pasien sudah melampaui kapasitas fungsi organ tubuhnya. saya rasa yang utama dalam mengelola pasien adalah mengedepankan sikap manusiawi entah itu untuk kondisi sakit yang ringan maupun pasien dengan kondisi sakit tahap akhir, mari berkaca pada diri kita sendiri.
dengan membiarkan seorang pasien meninggal bukan berarti kami bertindak jahat terhadap pasien, namun itu berarti dengan usaha maksimal yang sudah kita lakukan tidak akan memberikan kondisi yang lebih baik secara signifikan. dari sisi kemanusiaan, membebaskan seseorang dari penderitaan dianggap lebih manusiawi. siapa yang rela melihat seorang manusia merintih menahan sakit tanpa harapan untuk sembuh atau setidaknya menjadi lebih baik dan dapat menikmati hidup? saya rasa tidak ada. yang dapat kami lakukan adalah mengantar pasien dengan sebaik mungkin, menghilangkan rasa sakit dan penderitaannya, membuat pasien dan keluarga menerima kondisi dengan lapang dada dan penuh syukur, serta berprasangka baik bahwasanya pasien tersebut akan hidup lebih baik di surga dibandingkan kita paksa untuk hidup dengan kondisi yang tidak mendukung. untuk itulah fungsi DNR (Do Not Resuscitate) pun euthanasia ada.
dengan demikian, bukan berarti kami membiarkan pasien meninggal secara sia-sia. namun, usaha yang maksimal sudah pasti menjadi kewajiban kami dan haram hukumnya bagi kami membiarkan seorang pasien meninggal begitu saja tanpa mendapatkan pelayanan dan penghormatan yang layak, siapapun dan dari manapun pasien tersebut. jadi, soal menyoal menjadi dokter yang baik pondasinya adalah memiliki kualitas diri yang baik dari berbagai aspek, pun sikap peduli yang tinggi, serta mengenai ilmu itu adalah amanah yang dapat dilatih dan dipelajari seiring waktu. begitu nasihat dari dr.Tri Widodo, Sp.PD, dokter yang mengajar kami dengan penuh inspirasi.
Maka, doa kami untuk pasien-pasien yang tidak lain adalah guru-guru kami bukanlah menitikberatkan pada keinginan untuk disembuhkan, tetapi semoga dengan adanya penyakit tersebut maka pasien kami dapat mengambil pelajaran dan menjalani kehidupan dengan lebih baik, diringankan penderitaannya, serta mampu menerima dengan lapang dada ketetapan terbaik dari Tuhannya. sedangkan doa untuk kami sendiri berfokus agar usaha yang kita lakukan dan gunakan dalam memeriksa dan merawat pasien tidak memberikan kemudharatan yang lebih banyak serta justru menjadi perantara yang penuh berkah dalam menyampaikan ketetapan Tuhannya. Tuhan tidak tidur dan senantiasa melihat kesungguhan kita. sepertinya ini terlalu spiritualis, tetapi begitulah dunia medis yang senantiasa dihubungkan dengan nyawa.
bila begitu harusnya setelah kita berusaha dengan semaksimal mungkin, maka apa salahnya membiarkan tangan Tuhan menjalankan perannya?
Comments
Post a Comment