The freedom of learning

Banyak. Ya, mungkin banyak di luar sana pelajar yang terjebak dalam pikiran naas mereka sendiri. Pikiran yang mengatakan bahwa tujuan mereka bersekolah adalah berorientasi pada nilai. Entah mereka menyadarinya ataupun tidak. Ketika mendapat nilai ulangan jelek atau bahkan mungkin mereka diharuskan untuk melakukan remidial test, reaksi spontan dari kebanyakan pelajar adalah cemberut, bersedih hati, atau bahkan ada yang menangis. Mereka kecewa, merasa tak bisa, dan akhirnya mengeluh. Atau mungkin kasus lain dimana banyak pula pelajar yang sering menyepelekan suatu pelajaran dan kesempatan belajar. Sungguh, belajar merupakan suatu proses untuk menambah pengetahuan dan mengembangkan diri, bukan cara instan (biasa disebut SKS : sistem kebut semalam) untuk mendapatkan nilai bagus. Andai semua sadar, tak hanya pelajar namun juga pemerintah yang mengatur sistem pendidikan serta para pengajar, maka pembelajaran di kelas yang membosankan bisa diubah menjadi lebih menyenangkan dan lebih bisa menarik minat siswa dalam belajar.
"Nilai adalah parameter paling ringkih untuk menilai kemampuan dan kecerdasan manusia. Kemampuan anda terlalu rendah bila dinilai hanya dengan angka-angka" (La Tahzan)
Pernahkah anda merasakan kebebasan dalam belajar dimana anda merasa tidak dituntut semata-mata hanya untuk melampaui batas nilai kelulusan, atau anda merasa bahwa belajar itu menyenangkan dan anda ingin terus menggalinya? Sungguh, hal tersebut adalah hal biasa yang bisa menjadikan anda luar biasa. Walaupun kelihatannya bersifat abstrak dan tergantung dari kesadaran setiap individu, namun kebebasan dalam belajar saya kira masih jarang dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Kebanyakan masyarakat kita menilai keberhasilan suatu siswa dalam belajar adalah mendapat peringkat pertama dalam kelas. (hmm... lagi-lagi kita bicara mindset. ya tapi begitulah adanya).  Bagaimana tidak, hal itu jelas terlihat ketika misalnya seorang pelajar yang merantau untuk menyelesaikan pendidikan pulang ke kampung halamannya, kemudian tetangga-tetangganya bertanya 'Bagaimana prestasinya di sana? dapat ranking berapa?'. Ya tidak salah memang, namun reaksi mereka setelah mendapat jawaban tersebut kebanyakan berinterpretasi kepada  nilai sebagai tolak ukur kesuksesan seorang pelajar dan hal tersebut secara tak langsung dapat mempengaruhi pemikiran seorang pelajar. Andai mereka tahu betapa menyenangkannya belajar, sampai-sampai nilai saja tak cukup untuk menggambarkannya.

Namun, bagaimanakah sebenarnya perasaan yang dapat dikatakan bahwa belajar itu menyenangkan dan bagaimanakah kebebasan dalam belajar itu bisa dimunculkan? Itu adalah ketika anda menerima materi pelajaran dan anda merasa haus, itu adalah ketika anda menerima materi pelajaran dan anda merasa sangat antusias (entah anda mudah atau sulit dalam memahaminya), itu adalah ketika anda tidak mengeluh mendapat tugas tetapi anda sangat bersemangat untuk mengerjakannya, itu adalah ketika anda tidak memiliki satupun buku pegangan namun anda dapat selalu memuaskan rasa ingin tahu anda dengan berbagai cara, itu adalah sesuatu yang bisa membuat anda menerobos lebatnya hujan, teriknya matahari, terbatasnya waktu, dan letihnya raga. Lebay mungkin, tapi setidaknya itulah yang bisa saya simpulkan dan saya bagikan pada anda.

Sementara itu, rasa senang dan bebas dalam belajar bisa dimulai dan dilatih dari penanaman mindset yang benar dan kesadaran. Merasalah bahwa kita itu memang sangat butuh ilmu, kita tak bisa apa-apa tanpa ilmu. bertanyalah pada diri sendiri seperti ketika ulangan anda mendapat nilai sembilan lebih atau mungkin sepuluh, kemudian anda ditanya atau dimintai tolong untuk mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, tetapi sayangnya anda tidak bisa dengan lancar mengungkapkannya, sementara itu teman anda yang lain yang mungkin nilainya lebih rendah dapat dengan mudah menjelaskan materi itu pada orang lain, malukah anda? Bebaskan pikiran anda dari rasa takut gagal, mendapat nilai jelek, dan takut salah. Bukankah kesalahan dan kegagalan adalah proses yang penting dalam belajar? Biarkan kesalahan dan kemenangan datang silih berganti dalam masa pembelajaran kita, itu semua berperan dalam menjadikan kita menuju manusia yang lebih baik dengan cara mengambil hikmah dari setiap fase. Ikhlaskan semua yang anda lakukan dalam proses belajar untuk mencapai sesuatu yang abstrak, sehingga anda perlu untuk mengejarnya agar itu terlihat nyata bagi anda.
"Kecerdasan dan kepandaian seseorang tidak dapat hanya dinilai dan dilihat dari penguasaan materi dan coretan hitam diatas putih, tetapi semua butuh bukti"

Comments

  1. asik bgt nih tulisan, ayo juj, tuangkan semua tinta pemikiran yang ada..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts