To Believe and To Trust
Itu bullshit ketika seseorang hanya percaya (atau bahkan mungkin hanya menyukai) kata-kata bijak dari para tokoh besar, men-share dengan teman-temannya, tapi seseorang tersebut tidak berani membuktikannya ketika keadaan membawanya ke dalam situasi yang serupa seperti yang termaksud dalam rangkaian kata-kata bijak tersebut. Atau mungkin hal itu bisa digambarkan seperti seorang istri yang percaya pada suaminya bahwa si suami tidak akan selingkuh, namun tidak mempercayakan secara total keyakinan tersebut, alhasil rasa cemburu dan curiga pun masih tetap ada. Dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut dapat sering kita jumpai. Kita percaya pada sesuatu, tapi tidak mempercayakan sepenuhnya kepada sesuatu tersebut, akhirnya kita malah jadi tidak fokus dan kurang maksimal.
Suatu ketika diadakanlah kompetisi menyeberangi air terjun Niagara dengan seutas tali baja dan sebatang tiang pengaman. Berkali-kali sudah dicoba oleh para kontestan, tapi semuanya gagal. Suatu ketika ada seorang pria yang berhasil menyeberangi tali tersebut hingga separo perjalanan, penonton pun dibuat kagum olehnya. Mereka memberikan semangat sekeras-kerasnya kepada sang kontestan dan akhirnya si pria berhasil menyeberangi air terjun Niagara tersebut. Ketika sampai di seberang, para penonton mendaulat si pria untuk kembali melintasi tali tersebut. Namun, si pria terlebih dahulu mengajukan pertanyaan kepada sang penonton. 'Apakah kalian percaya bahwa saya akan bisa menyeberangi tali tersebut kembali dengan selamat?', mereka pun menjawab 'Kami percaya kalau kamu pasti bisa'. 'Baiklah kalau begitu, jika kalian percaya saya akan selamat menyeberang kembali, adakah diantara kalian yang berani menyeberang bersamaku hingga tiba di seberang?', si pria mengajukan pertanyaan lagi. Namun kali ini tidak ada satu pun penonton yang menjawab, suasana menjadi hening. Si pria mengulangi kembali pertanyaanya dan akhirnya ada satu anak yang menjawab setuju. Ketika perjalanan itu kembali dimulai, para penonton kembali takjub, namun kali ini kepada keberanian si bocah yang ikut menyeberang dengan digendong oleh si pria. Akhirnya perjalanan kembali menyeberang itu berhasil. Karena membuat geger para penonton, si anak diwawancarai oleh salah satu stasiun TV, 'Kenapa kamu berani untuk ikut menyeberang?'. 'Karena dia ayahku,' jawabnya.
Kenapa para penonton menyikapi seperti itu? Tidak lain adalah karena mereka hanya percaya, tetapi tidak berani mempercayakan. Dan bagi mereka yang memiliki mimpi namun tidak berani memperjuangkannya, sebagian mungkin akan berkata 'Saya bukannya hanya percaya, tetapi saya realistis dengan keadaan dan kemampuan saya'. Lagi-lagi kalau saya bilang itu bullshit, tak ada yang tak mungkin kalau kita yakin. Bukankah Tuhan itu memberi kapasitas yang sama kepada setiap manusia, tinggal bagaimana individu itu mengolah dirinya sendiri?
Justru dengan keberanian kita dalam memperjuangkan apa yang ingin kita dapatkan dan melawan hambatan yang ada termasuk dari dalam diri kita sendiri, akan memanggil Tuhan untuk bersedia bergabung dengan perjuangan kita. Tunjukkan bahwa 'Tuhan, ini lho usahaku, apakah aku masih tidak pantas untuk mendapatkannya?'. Ingatlah Tuhan itu Maha Pemurah dan Tuhan tidak akan pernah mengunah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.
Gambaran yang saya jabarkan diatas sama halnya dengan ketika kita mempunyai mimpi. Mbak Anne pernah berkata bahwa
Kebanyakan orang gagal meraih mimpinya karena mereka tidak yakin kalau mimpi tersebut bisa tercapai.Dari pengamatan saya terhadap orang-orang di lingkungan saya, saya mendapati bahwa kebanyakan dari mereka gagal meraih mimpi tertingginya, kemudian mereka mencari jalan aman dengan beralih tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih pasti bisa ia dapatkan, atau dengan kata lain ia menurunkan standar pencapaian untuk dirinya sendiri dan berhenti memperjuangkan apa yang menjadi impiannya. Pasti banyak diantara kita yang tahu dan percaya dengan kalimat 'kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda' atau mungkin 'raih mimpimu setinggi langit' atau pula 'bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu'. Walaupun demikian, namun pasti banyak pula diantara kita yang hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Banyak diantara kita yang tidak benar-benar memperjuangkan mimpinya, dan menurut saya orang seperti itu hanyalah orang awam yang tidak benar-benar paham dengan maksud yang terkandung dalam kalimat bijak tersebut. Padahal jika kita renungkan, kalimat tersebut mengandung makna yang sangat dalam bagi mereka yang benar-benar tahu arti mimpi dan gemar berselancar dalam manis-pahitnya kehidupan. Ini, ini yang saya anggap sebagai menikmati hidup dan orang yang benar-benar hidup. Mereka yang tidak percaya dengan mimpi, kepercayaannya pada kalimat-kalimat tesebut tidaklah gigih, begitu pula dengan usahanya. Orang bijak pernah berkata
Engkau jangan pernah mempercayai apa yang aku katakan sebelum engkau membuktikannya.Percaya dan mempercayakan itu berbeda. Seperti cerita berikut :
Suatu ketika diadakanlah kompetisi menyeberangi air terjun Niagara dengan seutas tali baja dan sebatang tiang pengaman. Berkali-kali sudah dicoba oleh para kontestan, tapi semuanya gagal. Suatu ketika ada seorang pria yang berhasil menyeberangi tali tersebut hingga separo perjalanan, penonton pun dibuat kagum olehnya. Mereka memberikan semangat sekeras-kerasnya kepada sang kontestan dan akhirnya si pria berhasil menyeberangi air terjun Niagara tersebut. Ketika sampai di seberang, para penonton mendaulat si pria untuk kembali melintasi tali tersebut. Namun, si pria terlebih dahulu mengajukan pertanyaan kepada sang penonton. 'Apakah kalian percaya bahwa saya akan bisa menyeberangi tali tersebut kembali dengan selamat?', mereka pun menjawab 'Kami percaya kalau kamu pasti bisa'. 'Baiklah kalau begitu, jika kalian percaya saya akan selamat menyeberang kembali, adakah diantara kalian yang berani menyeberang bersamaku hingga tiba di seberang?', si pria mengajukan pertanyaan lagi. Namun kali ini tidak ada satu pun penonton yang menjawab, suasana menjadi hening. Si pria mengulangi kembali pertanyaanya dan akhirnya ada satu anak yang menjawab setuju. Ketika perjalanan itu kembali dimulai, para penonton kembali takjub, namun kali ini kepada keberanian si bocah yang ikut menyeberang dengan digendong oleh si pria. Akhirnya perjalanan kembali menyeberang itu berhasil. Karena membuat geger para penonton, si anak diwawancarai oleh salah satu stasiun TV, 'Kenapa kamu berani untuk ikut menyeberang?'. 'Karena dia ayahku,' jawabnya.
Kenapa para penonton menyikapi seperti itu? Tidak lain adalah karena mereka hanya percaya, tetapi tidak berani mempercayakan. Dan bagi mereka yang memiliki mimpi namun tidak berani memperjuangkannya, sebagian mungkin akan berkata 'Saya bukannya hanya percaya, tetapi saya realistis dengan keadaan dan kemampuan saya'. Lagi-lagi kalau saya bilang itu bullshit, tak ada yang tak mungkin kalau kita yakin. Bukankah Tuhan itu memberi kapasitas yang sama kepada setiap manusia, tinggal bagaimana individu itu mengolah dirinya sendiri?
Justru dengan keberanian kita dalam memperjuangkan apa yang ingin kita dapatkan dan melawan hambatan yang ada termasuk dari dalam diri kita sendiri, akan memanggil Tuhan untuk bersedia bergabung dengan perjuangan kita. Tunjukkan bahwa 'Tuhan, ini lho usahaku, apakah aku masih tidak pantas untuk mendapatkannya?'. Ingatlah Tuhan itu Maha Pemurah dan Tuhan tidak akan pernah mengunah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.
Jika kamu belum mengerahkan kemampuanmu dengan maksimal, jangan pernah berkata bahwa itu bukan jalanku, tetapi berkatalah bahwa itu salahku.Karena segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin, tetapi tidak ada pula yang gratis/mudah. Jadi kesimpulannya kalau seseorang itu merasa benar-benar gagal, bukankah itu berarti dia tidak mau melakukan syarat yang diberikan oleh hukum Tuhan (berusaha sungguh-sungguh)?
Comments
Post a Comment