ORANG JAWA

Saya orang Jawa.

sudah lebih dari 24 tahun saya menjadi orang Jawa. menyelami kultur Jawa, memaknai diri sendiri sebagai orang Jawa, dan pada akhirnya merasai kebanggaan akan Jawa itu sendiri secara luas. tulisan ini bukan bermaksud untuk memunculkan paham chauvinisme apalagi merendahkan suku lain, semata-mata untuk tujuan mengapresiasi bangsa saya sendiri dan memberikan pemahaman kepada khalayak.

pribumi Jawa adalah yang paling disorot waktu zaman penjajahan oleh Belanda. bagaimana tidak, pusat tanam paksa yang awalnya berdalih cultuurstelsel berhasil membuat rakyat jawa menjadi objek kemanusiaan yang tak termanusiakan. para petani diharuskan menggarap tanahnya atas kepentingan kolonial, tanpa upah, tanpa penghidupan, bahkan rakyat diharuskan membayar pajak dan menjual hasil buminya seharga pasar sementara tanahnya sendiri terbengkelai. tanpa kekuatan, tanpa pengajaran, dan tanpa perlindungan. mungkin dari sisa-sisa penjajahan itulah, karakter manusia Jawa semakin terbentuk. masyarakat jawa yang mudah menerima dan mengalah, tahu diri, dan penuh sungkan. tatanan kehidupan dalam bentuk kerajaan atau keraton adalah latar belakang lain dimana masyarakat terbiasa untuk bertata krama, lemah lembut tetapi ramah dan perasa, serta sangat teguh menjunjung kultur kejawaannya. sopan santun dalam tata krama menunjukkan tingginya peradaban umat manusia.




lebih jauh membahas tentang tanah Jawa, ada yang kita sebut sebagai sejarah. jika kebanyakan dari kita berandai-andai untuk melancong ke negeri eropa, lihatlah apa yang membuat kita terpana akan eropa. bias jadi karena budayanya yang maju, teknologi yang canggih, polusi yang minimal, dan yang terpenting adalah bangunannya yang klasik seolah setiap tempat dan benda menyimpan ceritanya sendiri. mengapa hal tersebut bertahan selama beratus-ratus tahun?

sempat terbersit beberapa kali waktu itu, mengapa harus ada yang melestarikan budaya? padahal kalau dilihat  di zaman sekarang, kesenian daerah lebih sedikit dilirik apalagi menghasilkan uang, yang ada adalah hiburan masyarakat mulai bergeser kepada teknologi yang lebih maju. apa iya  mereka rela mendapatkan sedikit penghasilan hanya untuk sekedar menjalankan rutinitas kesenian nenek moyangnya atau kepuasan batin semata? saya rasa merawat rumah memiliki peran besar dalam mempertahankan pola kehidupan peradaban masyarakat Jawa.

saya cinta dengan orang Jawa, mereka memiliki nilai moral dan kebijaksanaan yang luhur. dalam salah satu filosofinya, Jawa memiliki kalimat "Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha" memiliki intisari bahwa mereka tidak perlu untuk merendahkan orang lain untuk diri mereka sendiri, apalagi bersifat sombong. cukup kekayaan batin yang menjadikan mereka damai dan hidup sederhana apa adanya, tetapi memegang kebenaran. dari beragamnya karakter manusia jawa, yang saya junjung tinggi pula adalah kemauan untuk bekerja keras dan berproses untuk itu. dimana-mana mereka lebih senang berprasangka baik karena orientasinya adalah mencari teman dibandingkan lawan. sungguh indah dan begitu damainya tanah Jawa.



dalam salah satu ulasannya, Pram menuturkan bahwa wajah pribumi dan bangsawan Jawa itu khas. Ia berwajah bulat dengan mata yang sedikit keluar dari rongganya, berhidung tipis dan pendek. Ya, seperti itu jugalah gambaran wajah Kartini, sosok sentral yang mewakili ras Jawa. ia menyatakan bahwa dirinya tidaklah tergolong cantik walaupun ia adalah seorang anak dan istri bupati. saya Jawa, Kartini juga Jawa, dan saya bangga menjadi orang Jawa. jika wajah saya dikatakan representatif untuk orang Jawa, saya sangat senang.


"Bagi saya, hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan lebih bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya"
(Raden Ajeng Kartini)



Referensi :
doc.commons.wikimedia.org

Comments

Popular Posts