a letter to Gie

Dear Gie, Soe Hok Gie...

kata Che, "Bila hatimu bergetar marah melihat ketidakadilan, maka kau adalah kawanku" dan kamu, Che Guevara, pun begitu Abdul Wahab adalah sama karena dari kalian aku banyak belajar. aku bergeming ketika nenek pencuri sandal dihukum 5 tahun penjara sementara koruptor hanya dihukum 1,5 tahun penjara, aku mengelus dada ketika seorang guru ditahan karena mencubit anak didiknya yang nakal sementara penghina pancasila malah dijadikan duta bangsa, ada lagi kasus seorang anak yang dipukul dan ditendang karena mencuri demi sesuap nasi disandingkan dengan kasus pencuri uang rakyat yang dibela setengah mati pada akhirnya membuatku tertunduk malu, apa yang salah dengan negeriku? sesungguhnya nak, hukum negerimu ini tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

berbulan-bulan lalu aku merasai bahwa mungkin orang akan bilang bahwa aku ini gila, hari gini masih ngomongin kebenaran dan keadilan... ya karena yang menjadi headline dimana-mana adalah toleransi dan kemakluman hingga mereka menjadi lupa tentang apa hakikat toleransi itu sendiri. satu, dua, tiga berita yang muncul mengenai kebenaran dan keadilan akan sangat diapresiasi oleh hampir semua kalangan, tapi rasanya susah untuk menanamkan sikap meneladani. apakah selama ini mereka hanya diajari tentang bagaimana caranya memuji tanpa tahu bagaimana caranya memaknai? mungkin bukan konsep itu lebih tepatnya, tetapi apakah selama ini mereka belajar tentang bagaimana caranya menemukan kebenaran dan mengubah mindset? ini susah, tidak semua orang mau melakukannya, tetapi penting!

Gie, beberapa waktu lalu aku membaca buku Max Havelaar dari multatuli. dan aku terpana akan perjuangan serta pengorbanan seorang barat berkulit putih, yang bahkan tidak dilahirkan di Indonesia, gigih membela keadilan bagi pribumi yang jelas-jelas bukanlah bangsanya sendiri. disaat para priyayi atau ningrat, orang pribumi yang dijadikan berkuasa atas daerahnya di bawah kolonial, habis-habisan memanfaatkan kesetiaan pribumi untuk hal-hal yang dapat memperkaya perut dan memperlancar gaya hidupnya, ia rela berkali-kali diasingkan dan dipindah tugaskan akibat ulahnya dalam membela apa yang benar di matanya. bukankah begitu jika bahasa keadilan dimaknai dengan dalam, Gie? ia akan berlaku sama untuk semua orang dan tidak memandang dari mana berasal, bagaimanapun ia berhak dibela. ya memang benar, bahwa kolonial itu kejam karena merebut hak bangsa kita, tetapi lebih dari itu bahwa bangsa kita sendirilah yang tega mengeksekusi saudaranya sendiri. seperti kata Kartini, 'tidak ada yang betul-betul dapat menjatuhkan kamu kecuali dirimu sendiri'.

Jika kau tidak sibuk, coba tengoklah situasi di Indonesia saat ini, Gie. berbondong-bondong orang menyerukan keadilan atas nasib anak negeri yang ditahan tanpa ampun. seberapa pun baiknya pejabat negeri ini jika kau bukan muslim maka kau tidak akan jadi pemimpin, begitu kata orang psimis. tapi bukan itu intinya. orang baik akan dibungkam dengan cara yang beragam, dominansi dianggap sebagai kebenaran, dan lisan akan lebih berbicara dibandingkan pikiran. apa jadinya bila media hanya berkoar mengenai ketidakadilan, mungkin mental bangsa ini sudah terjual. mereka membutuhkan angin segar, agar keberagaman tetap ada beriringan. teror, penolakan, fitnah, hingga hinaan sudah tidak canggung lagi mereka lontarkan ke sesama, sedih bukan Gie? konon katanya carilah dan tegakkanlah kebenaran, tetapi haram hukumnya merasai diri paling benar.

Kata mas pram, seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. oleh karenanya, keadilan bukanlah karbitan. jika kita menginginkan keadilan, konsistensi adalah kewajiban. terimakasih atas integritasmu Gie, selalu yang kuingat dalam perkataanmu adalah lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.



Jogja, 26 Mei 2017
19:15




Referensi : 
Max Haveelar, Multatuli
Bumi Manusia dan Anak Segala Bangsa, Pramoedya Ananta Toer
Catatan Harian Seorang Demonstran, Soe Hok gie
www.kompasiana.com

Comments

Popular Posts