PESTA DEMOKRASI. Kuberpesta, Kau Berdemokrasi.

JAKARTA - ibukota negara kita tercinta Indonesia baru saja berpesta, demokrasi disebutnya, meski tak bisa dibilang tanpa cela. segala isu menyatu, menawarkan segala perspektif yang membuat pemikiran orang skeptis menjadi semakin rancu. emosi, harga diri, konservatif, dan intoleransi menyeruak melebihi kapasitas diri untuk beradu politik. tapi baru kali ini, saya merasai demokrasi dihargai setengah mati, adakah dikau disini?




Kemenangan salah satu paslon pada pilkada DKI putaran kedua kemarin (19/4) mengantarkan kita pada rangkuman peristiwa dalam setidaknya 6 bulan terakhir. berawal dari isu agama, dan berakhir dengan isu politik. saya muslim dan saya mengimani bahwa kehidupan islami memang harus diterapkan dalam segala aspek kehidupan penganutnya, termasuk salah satunya adalah politik. jadi bagi kami, jawabannya adalah 'tidak' terhadap himbauan yang mengatakan bahwa agama dan politik hendaknya tidak disangkutpautkan. dan saya mengerti bahwa himbauan tersebut tidak lain dimaksudkan untuk meredam aksi massa yang berlebihan. bukannya saya hendak bertindak sekuler, main hakim sendiri, apalagi bertindak radikal. cukup bagi saya sebuah catatan bahwa jangan-jangan saya sendiri yang kurang belajar sehingga dengan kerendahan hati saya menerima koreksi dan diskusi yang fair, bukan debat kusir.

'kecewa' - perasaan ini yang mungkin dirasakan oleh banyak masyarakat, tak terkecuali saya. setidaknya ada tiga hal yang membuat saya ingin menuliskan hal ini. pertama, saya kecewa karena tidak menjumpai apa yang saya harapkan dari saudara sesama muslim dalam bertindak sebagai agen pembawa citra Islam. saya merasa tidak nyaman dan malu, karena saya tidak menjumpai penyebaran dakwah secara damai dan sopan. setidaknya untuk menghargai paslon yang non-muslim. pun paslon petahana mengucapkan kata yang tidak sopan, tetapi dalam konteksnya beliau bukanlah orang yang memahami Al Qur'an dengan baik dan tidak ada niat untuk menistakan agama secara sengaja, apakah bijak bila kita menghukum beliau hingga sedemikian rupa. apakah teguran sudah diprioritaskan sebelum mereka berpikir matang untuk menjatuhkan gugatan? saya rasa beliau akan merespon dengan baik apabila teguran dilayangkan kepadanya. jangan sampai masyarakat berasumsi dibalik langkah aksi massal dan gugatan tersebut ditunggangi oleh oknum dengan tujuan tertentu sehingga menjadi salah tafsir, berlarut-larut, dan pada akhirnya akan menjadi carut-marut. banyak ahli agama dan semantik turut menelaah apa yang beliau katakan saat itu, hasilnya mereka tidak mengatakan bahwa beliau menista agama, hanya saja hal tersebut tidaklah pantas untuk dikemukakan kepada masyarakat umum. 'penghina agamamu tidak akan membuat agamamu hina, tetapi reaksi dan tindakan anarkismu yang mengakibatkan agamamu menjadi terhina', begitu nasihat KH.Mustofa Bisri yang sejalan dengan apa yang saya rasakan.

kedua, saya merasa miris melihat debat kusir dimana-mana. masyarakat terkesan peduli dengan adanya isu tersebut, tetapi dengan kontrol emosi yang buruk serta adanya sifat kurang menghargai, dan pemahaman yang kurang dalam berbagai substansi isu justru malah membuat kita tercerai-berai. persis seperti zaman VOC, kita mudah untuk diadu domba. ketiga, saya merasa kecewa karena paslon petahana kalah dengan cara yang seperti ini. banyak artikel yang menyebut bahwa hal tersebut adalah awal dari rekayasa makar. apapun itu, sebaiknya masyarakat harus bisa untuk menilai berita secara lebih kritis dan pandai menempatkan opini. tentunya dengan massa besar dan aksi yang beraneka ragam, penguasa tidak mampu mengontrol keadaan menjadi seperti halnya keadaan ideal yang kita harapkan.

kemenangan salah satu paslon tidak bisa kita anggap hanya sebagai peruntungan dari isu agama yang menyeruak, tetapi lebih dari itu, beliau juga berhak diapresiasi atas kualitas yang dimiliki. bagaimana tidak, beliau adalah penggerak Indonesia Mengajar sekaligus mantan menteri pendidikan. Janganlah kita menjadi skeptis dan psimis, tetapi lebih dari itu menjadi positif dan aktif.

"Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua bergantung pada keputusan politik. orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, serta rusaknya perusahaan nasional dan multinasional" -Bertolt Brecht, seorang penyair Jerman

the last but not least, saya sangat mengapresiasi partisipasi yang ditunjukkan oleh warga Jakarta dalam mengawal pilkada. bukan karena siapa dan dari golongan mana beliau dipilih, tetapi sesungguhnya siapa pun pemimpin terbaik yang sudah kita pilih ada baiknya kita dukung dan kita kawal seperti layaknya pemimpin-pemimpin lain ingin diperlakukan, tentunya tidak dengan saling nyinyir ataupun membanding-bandingkan, bahkan cenderung menyalahkan kaum sekuler maupun radikal. apa yang ada akan lebih bijak jika kita usahakan dengan sebaik mungkin. kita memberikan kesempatan, kita pula yang harus menjamin bahwa kesempatan tersebut memang digunakan dengan semestinya dan sebaik-baiknya. kekecewaan tidak akan menghalangi kita untuk kembali bersatu memajukan Jakarta yang katanya adalah rumah kita. dengan begitu, slogan "alangkah lucunya negeri ini" dapat saya ganti menjadi "alangkah damainya negeri ini". biarlah media luar berbisik hingga berteriak keras mengatai negeri ini, asalkan kita bisa segera sadar dan berbenah diri, mari unjuk gigi.

walaupun bisa dibilang saya tidak memiliki hak suara, tetapi apa iya dengan adanya berita yang tiap hari berkeliaran di depan kepala, saya bisa dengan mudahnya memandang sebelah mata? setidaknya saya ingin turut berpesta, mari duduk bersila dan belajar bersama



Sumber gambar :
liputan6.com

Referensi, baca juga artikel berikut :

Comments

Popular Posts