Independent Woman
"I don't go by the rule book. I lead from the heart, not the head", Diana Frances Spencer.
"Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama", surat Kartini kepada Prof.Anton dan Nyonya pada tanggal 4 Oktober 1902.
Menjadi seorang perempuan pada masa ini rupanya tidak hanya membawa peran yang besar di masyarakat tetapi juga membawa risiko yang besar untuk dirinya sendiri. bagaimana tidak, kehamilan remaja di luar nikah dan pelecehan beserta kekerasan seksual yang menimpa anak-anak perempuan Indonesia menjadi semakin nyata. komunikasi global tanpa batas yang membawa suara wanita makin didengar ternyata juga bisa menjadi boomerang untuk kaumnya sendiri.
baru-baru ini saya mendapat pasien yang mau tak mau menghadapkan kita pada masalah sosial, tidak hanya masalah medis semata. hal yang dulunya kita anggap jauh dari lingkungan kita yang rata-rata berpendidikan harus kita hadapi di depan mata. seorang anak, ya kalau kita masih risih memanggilnya ibu, dihadapkan pada meja operasi untuk melahirkan putrinya. wajahnya nampak cemas dengan tatapan pasrah karena mungkin ini pengalamannya yang pertama kali pun tak pernah terbayangkan sebelumnya. usianya masih 14 tahun dan dia akan memiliki seorang anak. pasti kita terheran-heran orang tua mana yang masih kolot menikahkan putrinya di usia yang masih sebelia itu. tapi hal tersebut bukanlah keinginan orang tua semata, nyatanya lingkungan memainkan peran utama dalam hal ini. ya, hamil diluar nikah bukanlah tabu di zaman sekarang apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa akses bermacam informasi dan komunikasi dapat diperoleh dengan mudah. bukan berarti saya menyalahkan dunia yang makin canggih dan tidak tahu konsekuensi dari adanya kemajuan teknologi, hanya saja amat disayangkan bahwa sebagian keluarga dan institusi pendidikan belum mampu berperan maksimal dalam menghadapi efek dari kemajuan zaman ini dalam artian belum bisa memberikan bentuk edukasi yang tepat dan batasan kepada para siswanya mengenai penggunaan gadget yang bijak.
seorang guru mengajarkan kami, anak-anak perempuan, agar supaya terus bersekolah apapun hambatannya, termasuk bila seorang anak perempuan hamil diluar nikah. semangat sekolah haruslah senantiasa didorong untuk menempuh pendidikan, entah formal maupun nonformal, karena apa? karena dari sanalah generasi baru akan dididik pertama kali, lebih jauh agar para perempuan tidak hanya dianggap sebagai kaum yang lemah, agar mereka tahu bahwa perempuan adalah sama dengan para pria sehingga tidak dapat diberlakukan sewenang-wenang, lebih mirisnya agar para perempuan bisa berpikir dan berani bertindak melawan kesewenangan para pria, agar mereka dapat berdiri meski tidak adanya dukungan dari pria. saya sedih ketika melihat para perempuan berputus asa akan keadaan, saya bergeming ketika lingkungan tidak dapat memberikan dukungan karena kurangnya pengetahuan mereka akan pentingnya pendidikan pun minimnya sarpras, saya marah ketika berulang kali melihat berita perempuan menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual. menjadi seorang ibu rumah tangga memang pekerjaan yang mulia, tetapi menjadi seorang ibu rumah tangga yang cerdas dan independen akan mampu memberikan dampak positif yang lebih besar terutama untuk keluarga.
For a girl, marriage can be postponed, but education can't. anonim
Banyak orang berkata untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, itu dulu atau mungkin mereka tidak benar-benar tahu apa yang diperjuangkan Kartini. sekarang zaman sudah berubah paklik, bulik. perempuan yang tidak berpendidikan akan sangat disayangkan karena sarana pendidikan dan kebijakan pemerintah saat ini sudah jauh mendukung. berpendidikan dalam artian tidak harus menempuh jenjang sekolah tetapi mereka yang mau belajar darimana saja dan menjadi cerdas dengan cara mereka sendiri. dengan begitu seorang perempuan dapat memainkan perannya dengan maksimal untuk keluarga maupun untuk lingkungan. pada ujungnya semua akan kembali kepada pendidikan karena mereka harus tahu esensi dari apa yang mereka lakukan, tidak hanya sebatas perlindungan.
dan lagi, saya tidak bisa lebih setuju dari wanita ini yang berpikiran kontradiktif dengan kultur masyarakat Indonesia akan wanita. dalam suratnya ia seolah menyuguhkan sisi lain dari karakter wanita yang tidak melulu lemah lembut dan apa adanya, tetapi lebih kepada kemandirian dan cerdas. agar apa? agar laki-laki menjadi lebih terbuka dan lebih berani bertindak. untuk siapa? untuk dirinya sendiri, untuk wanita yang diperjuangkannya, dan untuk negaranya.
"Men, you say you want a strong, intelligent, truly independent woman who wants you rather than needs you, who inspires you, who pushes you towards being yourself, who can stick by you through the hardest times, and who can be your rock through life's obstacles.But you need to know that a truly strong, independent woman does not walk through life with her heart wide open. She has had to put up walls to block toxicity to obtain her strength. She is skeptical and always on alert from a lifetime of defense against predators. She is going to be a bit jaded, a little cynical, and a little scary because those qualities come with the struggle of obtaining that strength that gravitates you. She is going to doubt and question your good intentions because it has become her adaptability instincts that have allowed her to thrive.She is not a ball of sunshine. She has flaws. She has a past. She has her demons. She knows better than to just let down her barriers for you simply because you voice a desire to enter. You have to prove your right of entrance. She will assume the worst of you because the worst has happened.If you want her to see otherwise, prove her wrong."—Maggie Young
Referensi :
Habis Gelap Terbitlah Terang

Comments
Post a Comment