Fairytales
Once upon a time ...
Dongeng, konteksnya sering disalahartikan sebagai cerita anak-anak saja. Tetapi dongeng yang bagus adalah sebuah cerita anak-anak yang tidak hanya dapat dinikmati oleh anak-anak, melainkan oleh remaja dan orang dewasa dari segala usia. Mari kita tilik beberapa dongeng yang isinya berhasil meraih perhatian dari segala kalangan, yaitu Harry Potter oleh Joanne Kathleen Rowling dan The Chronicles of Narnia oleh C.S. Lewis. Keduanya menyuguhkan imajinasi tiada batas yang mampu dinikmati dan diinterpretasikan secara bebas oleh pembaca. Pernahkan berpikir bahwa mereka sebenarnya menggiring kita ke dalam dunia imajinasi mereka yang tidak terbayangkan oleh kita sebelumnya? Mereka memungkinkan kita untuk dapat bertemu dengan tokoh dalam buku tersebut. Ya, hanya melalui imajinasi dan itu menyenangkan. Setiap orang memiliki selera mereka sendiri, memiliki tipe pemikirannya sendiri, dan memiliki gambaran imajinasi mereka sendiri. Itulah salah satu hal yang membuat buku-buku fiksi semacam ini kaya akan pengetahuan
dan mampu mengasah kecerdasan.
Dongeng, kalau Anda menyebut cerita
kekanak-kanakan tersebut hanyalah seperti kisah putri-putri raja atau peri atau
hewan-hewan maka hal itu adalah pengetahuan yang kurang. Dongeng bisa menggambarkan apa saja
termasuk kehidupan anak-anak secara umum termasuk mengenai mimpi-mimpi
anak-anak pada umumnya. Dongeng bersumber dari pemikiran anak-anak yang
senantiasa menginginkan hal-hal yang menakjubkan dan menyenangkan, sehingga
pembacanya pun turut merasakan kegembiraan. Dongeng akan senantiasa menyuguhkan
nilai-nilai moral, apa-apa yang dianggap baik dan lebih baik, sesuatu di balik
kejadian, dan banyak hal. Dongeng menghadirkan harapan bahwa kebaikan itu ada
dan harus tetap ada. Dan dongeng dapat senantiasa kita nikmati pada usia kapan pun, karena dengan
membaca dongeng maka kita akan mampu mempertahankan sisi kanak-kanak kita dalam
proporsinya masing-masing. Itulah salah satu hal yang mampu membentuk dan membedakan karakter
kita dengan orang lainnya. No one is too old for fairytales, pepatah mengatakan demikian.
Banyak orang yang menginginkan dirinya untuk senantiasa memiliki pemikiran seperti anak-anak. Anak-anak adalah pencari kegembiraan, lakon yang spontan, hatinya berkata kebenaran, dan sinar matanya senantiasa menatap harapan. Terkadang, pemikiran anak-anak adalah suatu keajaiban.
Dongeng, orang tidak boleh lupa bahwa setiap cerita tidak hanya memiliki peran/tokoh utama saja. Namun, setiap hal dalam cerita tersebut memiliki perannya masing-masing, memberikan warna dalam cerita dan membuat cerita tersebut utuh. Kita tidak boleh melihat mereka hanya sebagai tokoh pendukung. Karena seperti halnya kita, manusia-manusia bumi, diciptakan sebagai seorang individu bebas yang menjadi tokoh utama dalam drama kehidupan kita sendiri. Jangan pernah merasa rendah di mata orang lain karena kita apa adanya, jangan pernah berpikiran sempit bahwa dunia ini sudah tidak berpihak kepada kita karena semua drama kehidupan kita adalah bersumber dari kita sebagai lakon utama dan Tuhan sebagai perencana terbaik.
![]() |
Every person's life is a fairytale written by God's fingers,
life itself is the most wonderful fairytales - Hans Christian Andersen (1805-1875)
|
Dongeng, terkadang orang-orang yang terlalu mencintai
dongeng adalah orang-orang yang selalu ingin melihat dunia yang berbeda dari realitas,
dunia yang lebih mengasikkan, dan dunia yang sesuai dengan keinginan mereka
sendiri tanpa mengabaikan realitas di sekitarnya. Itulah tahapan yang lebih
tinggi dari seorang pembaca dongeng, mampu membedakan mana yang imajinasi dan
realita tetapi mampu untuk menikmati keduanya dalam perspektif yang tidak
banyak orang lain sadari.
Dongeng memang bacaan ringan, tetapi untuk memperoleh pendidikan dan hiburan tidak harus melulu membaca buku dengan konten yang serius bukan? 'If you want your children to be intelligent, read them fairy tales' - Albert Einstein
Sumber gambar : pinterest.com


Comments
Post a Comment