You Ever Been A Child
unsafe sex intercourse | teen pregnancy | abortion | maternal mortality
HIV infection | lesbian | gay | transgender
sexually transmitted disease | premature birth | mortality | rape
sexually transmitted disease | premature birth | mortality | rape
drop out | poverty | low birth weight | not a kid anymore | western culture
married by accident | child exploitation | suicide | murder.
Rasa-rasanya dunia sudah semakin tua, begitu pula dengan saya.
sepatu baru, disini senang disana senang, tikus makan sabun, kring ada sepeda, pohon cemara, ambilkan bulan bu dan sederet lagu anak-anak lainnya pasti pernah mewarnai masa kecil kita yang lahir disekitar tahun 90-an, bahkan mungkin yang lahir sebelum tahun tersebut. kemudian permainan tradisional seperti gobag sodor, jamuran, betengan, dan sejenisnya juga pasti sering kita lakukan bersama teman sebaya dikala itu. intinya adalah kita mandapatkan hak kita sebagai seorang anak secara pantas dan layak.
kemudian kita tumbuh, dan tak lagi menyanyikan serta memainkan hal-hal tersebut. namun, tanpa disadari semua aspek kekanakan tersebut tidak hanya lenyap dari kehidupan kita, tetapi juga dari dunia kita. sengaja membandingkan, sekarang kita bisa menghitung seberapa banyak anak-anak akan berinteraksi dengan teman sebayanya. beberapa memilih home schooling, beberapa memilih shopping, dan beberapa memilih scrolling. layar televisi tidak lagi dihiasi teletubbies, cilukba, tralalal trilili, rumah cemara, maupun serial kepahlawanan seperti power rangers. dan justru kita akan menjumpai ajang pencarian bakat anak-anak yang kebanyakan lagunya adalah lagu-lagu dewasa.
itulah secuplik realitas yang harus kita hadapi sekarang, entah di ranah nasional maupun global. dan sebenarnya bukan mereka yang merindukan masa kanak-kanak, tetapi kita sebagai individu yang melihat perubahan tersebut. miris memang, kalau kita katakan bahwa sekarang zaman sudah maju, bukankah sepantasnya kemajuan zaman diikuti dengan kemajuan perkembangan generasi berikutnya? tetapi rupa-rupanya tidak begitu. masalah media visual, kepadatan jadwal kerja orang tua, lingkungan yang semakin apatis, pengaruh budaya global, dan kurangnya gelagat integritas lembaga pendidikan untuk membangun moralitas anak sejak dini merupakan beberapa pangkal terjadinya degradasi kualitas anak dan remaja Indonesia. dan salah satu dampak terbesar yang dapat kita lihat sekarang adalah kasus eksploitasi anak dan kehamilan usia dini.
tidak perlu saya sebutkan berapa banyak kasus eksploitasi anak maupun kasus kehamilan remaja saat ini. yang membuat saya tergeliat adalah peran lingkungan yang kebanyakan hanya berperan sebagai bystander/penonton. mereka/kita secara sadar tahu dan memahami bahwa hal tersebut salah, namun aksi nyata masyarakat untuk terjun langsung saya rasa masih kurang kecuali institusi/lembaga terkait seperti BKKBN dan KPA. entah karena ketidakberanian atau memang dunia ini sudah benar-benar menjadi semakin apatis. dan efek terberat bagi korban kasus tersebut adalah timbulnya gangguan mental bahkan kematian. bukankah sayang jika kita harus melihat banyak anak disana yang senang gembira bermain sementara di sudut lain kita akan menjumpai beberapa anak sudah menggendong bayinya, putus sekolah, dan mulai tampak wajah-wajah lesu nan mengkerut yang sebenarnya hatinya ingin dibebaskan dari keadaan kala itu? saya rasa kita yang disebut sebagai kaum dewasa memiliki peran disana.
saat ini dunia sudah dapat dikendalikan dengan yang namanya media, entah media cetak, maupun sosial dan visual. bila kita tidak ingin hanya berpangku tangan melihat hal tersebut maka lakukan perubahan. dimulai dari mindset kita. berikan apresiasi pada program acara TV yang menampilkan acara anak-anak, jangan mencelanya walaupun sudah bukan selera kita, tetapi tontonlah dan lakukan pengamatan serta berikan apresiasi dan kritik/saran. menyuarakan pendapat kita tidak hanya terbatas pada program anak-anak saja tetapi juga acara lainnya karena hal termudah adalah speak up!. kemudian tingkatkan kewaspadaan diri kita dan orang tua akan media yang diakses anak-anak di lingkungan sekitar pun orang-orang terdekat. karena hal tersebut yang akan membentuk kepribadian dan pikiran anak-anak hingga dewasa. dan yang terakhir jangan takut untuk bergerak, dalam artian kita mengambil langkah untuk menginspirasi orang lain dan menghentikan tidak kekerasan serta amoralitas pada remaja dengan cara menciptakan ruang dan waktu untuk anak-anak. bukankah anak-anak adalah manusia juga yang harus dihargai dan dihormati eksistensinya? apalagi anak adalah titipan Tuhan, sudah sepantasnya kita merawat dan menaruh harapan kepada mereka. bukannya merusak dan menguasai lingkungan untuk diri kita sendiri.
| bagaimana seorang anak tumbuh akan menentukan karakternya ketika dewasa kelak |
itulah secuplik realitas yang harus kita hadapi sekarang, entah di ranah nasional maupun global. dan sebenarnya bukan mereka yang merindukan masa kanak-kanak, tetapi kita sebagai individu yang melihat perubahan tersebut. miris memang, kalau kita katakan bahwa sekarang zaman sudah maju, bukankah sepantasnya kemajuan zaman diikuti dengan kemajuan perkembangan generasi berikutnya? tetapi rupa-rupanya tidak begitu. masalah media visual, kepadatan jadwal kerja orang tua, lingkungan yang semakin apatis, pengaruh budaya global, dan kurangnya gelagat integritas lembaga pendidikan untuk membangun moralitas anak sejak dini merupakan beberapa pangkal terjadinya degradasi kualitas anak dan remaja Indonesia. dan salah satu dampak terbesar yang dapat kita lihat sekarang adalah kasus eksploitasi anak dan kehamilan usia dini.
tidak perlu saya sebutkan berapa banyak kasus eksploitasi anak maupun kasus kehamilan remaja saat ini. yang membuat saya tergeliat adalah peran lingkungan yang kebanyakan hanya berperan sebagai bystander/penonton. mereka/kita secara sadar tahu dan memahami bahwa hal tersebut salah, namun aksi nyata masyarakat untuk terjun langsung saya rasa masih kurang kecuali institusi/lembaga terkait seperti BKKBN dan KPA. entah karena ketidakberanian atau memang dunia ini sudah benar-benar menjadi semakin apatis. dan efek terberat bagi korban kasus tersebut adalah timbulnya gangguan mental bahkan kematian. bukankah sayang jika kita harus melihat banyak anak disana yang senang gembira bermain sementara di sudut lain kita akan menjumpai beberapa anak sudah menggendong bayinya, putus sekolah, dan mulai tampak wajah-wajah lesu nan mengkerut yang sebenarnya hatinya ingin dibebaskan dari keadaan kala itu? saya rasa kita yang disebut sebagai kaum dewasa memiliki peran disana.
saat ini dunia sudah dapat dikendalikan dengan yang namanya media, entah media cetak, maupun sosial dan visual. bila kita tidak ingin hanya berpangku tangan melihat hal tersebut maka lakukan perubahan. dimulai dari mindset kita. berikan apresiasi pada program acara TV yang menampilkan acara anak-anak, jangan mencelanya walaupun sudah bukan selera kita, tetapi tontonlah dan lakukan pengamatan serta berikan apresiasi dan kritik/saran. menyuarakan pendapat kita tidak hanya terbatas pada program anak-anak saja tetapi juga acara lainnya karena hal termudah adalah speak up!. kemudian tingkatkan kewaspadaan diri kita dan orang tua akan media yang diakses anak-anak di lingkungan sekitar pun orang-orang terdekat. karena hal tersebut yang akan membentuk kepribadian dan pikiran anak-anak hingga dewasa. dan yang terakhir jangan takut untuk bergerak, dalam artian kita mengambil langkah untuk menginspirasi orang lain dan menghentikan tidak kekerasan serta amoralitas pada remaja dengan cara menciptakan ruang dan waktu untuk anak-anak. bukankah anak-anak adalah manusia juga yang harus dihargai dan dihormati eksistensinya? apalagi anak adalah titipan Tuhan, sudah sepantasnya kita merawat dan menaruh harapan kepada mereka. bukannya merusak dan menguasai lingkungan untuk diri kita sendiri.
saya hanya bisa mengkritik lingkungan karena dilain sisi dari pelaku/korban adalah kita yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan diri kita sendiri. jika kita tidak ingin melihat kasus-kasus tersebut terlintas di depan mata kita, maka saatnya kitalah yang berperan untuk mengubahnya.
Be the change you want to see in the world - Mohandas Karamchand Gandhi (Mahatma Gandhi)
sumber gambar : painterfactory.com
Comments
Post a Comment