Tikus-tikus kantor
Saya berbicara atas dasar nurani, bukan demokrasi
Berbicara mengenai polemik kasus korupsi di Indonesia bukanlah hal baru. dulu, ketika pemerintahan rezim orde baru kita juga pernah merasakan bagaimana hak-hak warga sipil dicabut dan digunakan dengan semena-mena. sekarang saya bertanya, apakah mereka yang masih mengaku berpihak kepada rakyat tidak pernah mendapat gejolak nurani?
saya yakin, nurani manusia pasti memberontak ketika raga dan pikiran mereka melakukan hal yang salah karena kita diciptakan sebagai manusia yang suci. tetapi semua itu mulai dapat dirasa berbeda ketika manusia mulai jauh dari Tuhannya dan terperdaya oleh nafsu dunia.lalu, mereka mulai mengatasnamakan hal tersebut atas kebenaran dan keadilan. bukankah orang yang baik dan senantiasa berpikir serta berperilaku baik tidak akan mengatakan hal yang tidak baik? bukankah orang yang benar tidak akan takut akan hujatan dan tuduhan kepada mereka? lihatlah pejabat kita, dan saya tidak ingin membahasnya lebih jauh lagi.
guruku pernah bertanya, apakah korupsi terjadi karena salah satunya adalah adanya ketidakadilan? saya rasa itu bisa. ketika seseorang tidak menemukan keadilan untuk dirinya, maka ia akan cenderung untuk mencari pembenaran dan sekutu. dalam hal ini bisa saja hal tersebut positif atau negatif, dan saya hanya akan membicarakan yang negatif. orang yang demikian akan terjebak dalam peluang-peluang tak kasat mata yang diciptakan oleh lingkungannya. perasaan demikian yang berlangsung kronis akan menutup mata batin dan qalbu sehingga nurani tak dapat terlihat lagi, manifestasinya adalah mereka akan menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa. dan dengan begitu mereka akan berbicara mengenai kebenaran. dampaknya, lingkungan khususnya masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi akan mudah terhasut apalagi lingkungan di bawah kekuasaannya yang awalnya menurut akibat paksaan, sekarang menganggap itu adalah hal yang wajar.
mungkin banyak orang yang berpikir bahwa semua itu tergantung dari setiap individu, tapi saya yakin hal tersebut juga tidak akan terjadi tanpa kontribusi dari lingkungan yang menciptakan peluang itu. lalu, apa kontribusi yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan korupsi? apakah kita yang merasa sudah benar akan membiarkan hak kita dan rakyat yang lainnya diambil alih atas nama kekuasaan? saya rasa ini adalah bentuk baru dari imperialisme yang kalau boleh saya sebut adalah 'imperialisme modern' dimana mereka menjajah bangsanya sendiri. saya memilih untuk tidak tinggal diam, dan saya tidak ingin korupsi menjadi budaya baru di Indonesia. bagaimana denganmu?
kalau Anda ingin turut berkontribusi, maka janganlah takut. saya rasa semua itu harus dimulai dari sekarang, dari diri kita sendiri, dan dari hal kecil. berbuatlah sebaik dan sebenar mungkin agar kau tidak memiliki alasan untuk menghindar dari kebenaran. lakukanlah semua kegiatanmu dengan alasan karena hal tersebut akan membentuk mindset kita. pertajamlah nuranimu dengan ibadah. bukankah hal terpenting dari perang ini adalah mindset dan nurani? dengan begitu, kita tidak akan menciptakan peluang untuk diri kita sendiri dan untuk lingkungan kita. saya rasa, bila masyarakat bisa lebih menghargai ketulusan dan usaha keras daripada kekuasaan, kedudukan, atau materi maka hal tersebut bisa direduksi. tidak lupa pula kita harus senantiasa mendukung mereka-mereka yang benar agar tidak tinggal diam. dan saya tidak setuju bila kita hanya menyalahkan mereka yang benar tetapi diam atau kita hanya menyalahkan para koruptor. lihatlah diri kita sendiri terlebih dulu sebelum menyalahkan orang lain. seperti kata Bapak Anies Baswedan "Janganlah mengutuki kegelapan, tetapi bangkitlah dan nyalakan lilin".
Beberapa orang menyukai pembelajaran melalui visual, dan pembelajaran melalui visual akan lebih menarik untuk Anda, saya rasa. saya sediakan beberapa link video di bawah ini, lihatlah beberapa perilaku yang sudah dianggap wajar di masyarakat kita. dan kita baru akan menyadarinya.
"Psssssttt.... Jangan bilang siapa-siapa" klik
"Selamat Siang, Risa!" klik
"Aku Padamu" klik
satu yang saya inginkan dari para koruptor, lihatlah nurani Anda. apakah nurani Anda sekotor itu hingga Anda tidak dapat melihatnya?
Kamu adalah cerminan keluargamu
Terimakasih untuk guruku, Ibu Yulianingsih Riswan yang menyelipkan kalimat "Janganlah fokus pada nilai sehingga Anda mengabaikan ilmunya" atas ilmu dan pembelajarannya.
sumber gambar : kompasiana.com

Comments
Post a Comment