Terjebak profesionalitas dan kekeluargaan
Kita melakukan banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari, entah rutinitas, hobi, atau pengalaman baru. setiap kegiatan yang kita lakukan memiliki cara masing-masing mengenai bagaimana kita melakukan atau seperti apa kita melakukannya menurut versi kita sendiri. semua itu dilakukan untuk kepentingan dan kesenangan kita sendiri yang secara otomatis adalah tanggung jawab dan urusan masing-masing dari kita, tentunya kita ingin selalu melakukannya dengan senang hati. tapi ada suatu saat dimana kita sebagai makhluk sosial harus berinteraksi dengan orang lain, mengemban tugas bersama untuk tujuan yang lebih besar dan kita dihadapkan pada tanggung jawab yang memiliki peran dalam sistem kerja bersama. siapkah kita?
ORGANISASI - adalah salah satu contoh wadah interaksi tersebut. membicarakan mengenai organisasi adalah suatu hal yang tidak ada habisnya, mulai dari kesepakatan visi misi bersama, kepentingan jabatan, pengembangan diri, interaksi dengan orang lain, dan bahkan mengenai hubungan antar sesama lembaga. banyak sekali hal dan alasan yang membuat organisasi menjadi ajang pembelajaran bagi manusia. namun, dalam perjalanannya, organisasi sangat bergantung pada kondisi internal terutama hubungan antar anggota. apakah kondisi lingkungan organisasi tersebut akan mendukung kita dalam menjalankan peran kita masing-masing? tentu saja iya.
Profesionalitas adalah salah satu bentuk interaksi antaranggota yang pernah saya rasakan dan ini benar-benar hanya urusan mengenai 'do it right or wrong'. Pengalaman saya menyadarkan bahwa bila suatu organisasi hanya didasarkan pada prinsip ini maka seseorang dalam organisasi itu hanya akan dilihat dari bagaimana mereka bekerja, apakah rencananya bekerja dengan maksimal, atau sedang, atau malah gagal total. umumnya kebanyakan anggota lain akan mengesampingkan mengenai bagaimana seseorang bekerja dan terkesan tidak mau tahu dengan urusan ataupun hambatan seseorang. untuk membantu pun terkesan tidak total. semua bersikap sebagaimana mereka ingin dilihat dan dihormati hanya karena hasil kerja mereka. namun, terlepas dari sisi negatif yang saya ceritakan tersebut, profesionalitas sebenernya sedang mengajarkan kepada kita bahwa totalitas dalam bekerja adalah hal yang penting, tidak peduli gangguan dari dalam maupun dari dalam diri sendiri, serta membuat kita untuk selalu fokus pada tujuan dan proses.
Kekeluargaan dinilai lebih memanusiakan anggota organisasi, menurut saya. bukan karena kemudahan-kemudahan dalam bekerja yang bisa seenaknya saja didapatkan tapi lebih kepada menerapkan prinsip 'manusia adalah makhluk sosial'. dengan adanya kesepakatan bersama serta saling memahami dan mengerti maka saya rasa dasar sebuah sistem organisasi telah terbangun, tentunya itu tidak terlepas dari peran ketua dan pemangku jabatan penting yang sanggup mengayomi serta keinginan dan tekad anggotanya sendiri dalam mengikuti sebuah organisasi/perkumpulan yang mengesampingkan sisi egois. dengan terbangunnya model kekeluargaan dalam sebuah organisasi maka hal-hal yang kita lakukan pun tidak terkesan menjadi beban karena dilakukan dengan senang hati, apalagi bantuan sangat bisa mengalir dari anggota lain. intinya adalah membuat hati merasa tenang dan senang kemudian kita akan ikhlas melakukan apapun untuk kebahagiaan kita, tentunya dengan standar profesionalitas pula. saya rasa Anda semua pasti setuju bahwa dengan metode ini hasil kinerja maksimal dan kemajuan suatu organisasi bukanlah suatu yang mustahil untuk dapat dicapai karena mereka akan senang hati melakukan apapun untuk sesuatu yang mereka sukai. dan yang terpenting serta tidak akan pernah berakhir yaitu rasa kekeluargaan dan rasa saling memiliki antar anggota yang tidak pernah bisa dibangun secara instan akan tetap menjadi prioritas dalam kehidupan seseorang ke depannya.
menerapkan kedua hal tersebut pada waktu yang bersamaan dan dalam lingkungan yang berbeda telah membuka mata saya bahwa hidup bukanlah sebuah kompetisi dan harta paling berharga adalah orang-orang terdekat di sekitar kita utamanya orang tua, keluarga, dan sahabat.
ORGANISASI - adalah salah satu contoh wadah interaksi tersebut. membicarakan mengenai organisasi adalah suatu hal yang tidak ada habisnya, mulai dari kesepakatan visi misi bersama, kepentingan jabatan, pengembangan diri, interaksi dengan orang lain, dan bahkan mengenai hubungan antar sesama lembaga. banyak sekali hal dan alasan yang membuat organisasi menjadi ajang pembelajaran bagi manusia. namun, dalam perjalanannya, organisasi sangat bergantung pada kondisi internal terutama hubungan antar anggota. apakah kondisi lingkungan organisasi tersebut akan mendukung kita dalam menjalankan peran kita masing-masing? tentu saja iya.
Profesionalitas adalah salah satu bentuk interaksi antaranggota yang pernah saya rasakan dan ini benar-benar hanya urusan mengenai 'do it right or wrong'. Pengalaman saya menyadarkan bahwa bila suatu organisasi hanya didasarkan pada prinsip ini maka seseorang dalam organisasi itu hanya akan dilihat dari bagaimana mereka bekerja, apakah rencananya bekerja dengan maksimal, atau sedang, atau malah gagal total. umumnya kebanyakan anggota lain akan mengesampingkan mengenai bagaimana seseorang bekerja dan terkesan tidak mau tahu dengan urusan ataupun hambatan seseorang. untuk membantu pun terkesan tidak total. semua bersikap sebagaimana mereka ingin dilihat dan dihormati hanya karena hasil kerja mereka. namun, terlepas dari sisi negatif yang saya ceritakan tersebut, profesionalitas sebenernya sedang mengajarkan kepada kita bahwa totalitas dalam bekerja adalah hal yang penting, tidak peduli gangguan dari dalam maupun dari dalam diri sendiri, serta membuat kita untuk selalu fokus pada tujuan dan proses.
Kekeluargaan dinilai lebih memanusiakan anggota organisasi, menurut saya. bukan karena kemudahan-kemudahan dalam bekerja yang bisa seenaknya saja didapatkan tapi lebih kepada menerapkan prinsip 'manusia adalah makhluk sosial'. dengan adanya kesepakatan bersama serta saling memahami dan mengerti maka saya rasa dasar sebuah sistem organisasi telah terbangun, tentunya itu tidak terlepas dari peran ketua dan pemangku jabatan penting yang sanggup mengayomi serta keinginan dan tekad anggotanya sendiri dalam mengikuti sebuah organisasi/perkumpulan yang mengesampingkan sisi egois. dengan terbangunnya model kekeluargaan dalam sebuah organisasi maka hal-hal yang kita lakukan pun tidak terkesan menjadi beban karena dilakukan dengan senang hati, apalagi bantuan sangat bisa mengalir dari anggota lain. intinya adalah membuat hati merasa tenang dan senang kemudian kita akan ikhlas melakukan apapun untuk kebahagiaan kita, tentunya dengan standar profesionalitas pula. saya rasa Anda semua pasti setuju bahwa dengan metode ini hasil kinerja maksimal dan kemajuan suatu organisasi bukanlah suatu yang mustahil untuk dapat dicapai karena mereka akan senang hati melakukan apapun untuk sesuatu yang mereka sukai. dan yang terpenting serta tidak akan pernah berakhir yaitu rasa kekeluargaan dan rasa saling memiliki antar anggota yang tidak pernah bisa dibangun secara instan akan tetap menjadi prioritas dalam kehidupan seseorang ke depannya.
menerapkan kedua hal tersebut pada waktu yang bersamaan dan dalam lingkungan yang berbeda telah membuka mata saya bahwa hidup bukanlah sebuah kompetisi dan harta paling berharga adalah orang-orang terdekat di sekitar kita utamanya orang tua, keluarga, dan sahabat.
Happiness is only real when shared.
Comments
Post a Comment