Dokter

Dokter, pahlawan ataukah seorang manusia manja?

Dunia serasa terbalik ketika kita mengetahui fakta bahwa banyak universitas negeri maupun swasta yang mendirikan sekolah kedokteran, namun seperti yang kita lihat bahwa Indonesia dikatakan masih kekurangan tenaga medis, utamanya dokter. Sementara itu, citra sebagai dokter masih dijunjung tinggi dan dielu-elukan oleh sebagian masyarakat kita. Itulah salah satu alasan banyak pelajar ingin masuk fakultas kedokteran, entah itu yang kaya atau yang miskin, yang pintar atau yang bodoh. Dan fantastisnya, banyak universitas yang kini mendirikan fakultas kedokteran dengan jumlah mahasiswa ada yang mencapai 600 orang tiap angkatan. Hebat, namun miris.


Memang, dokter adalah profesi yang menuntut dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mereka yang berprofesi sebagai dokter kadang dianggap sebagai seorang dewa yang bisa menyembuhkan sebagian besar penyakit. Agak berlebihan memang, namun dokter dengan hati malaikat dan penuh dedikasi terkadang dianggap layak mendapatkan pujian itu. Pekerjaannya mulia, sikapnya santun, hartanya tidak kurang, pakaiannya rapi dan bersih, serta masih ada banyak hal baik yang ada pada diri seorang dokter sehingga ia dijadikan suri tauladan oleh masyarakat di sekitarnya. Namun, sebagai seorang calon ahli medis pasti kita tahu bahwa ada beribu-ribu penyakit di dunia ini, tetapi Ilmu Kedokteran hanya memiliki pengobatan empiris untuk 26 diantaranya, sisanya adalah menduga-duga (Segal dalam Doctors, 2010). Oleh karena itu, sebagai mahasiswa dan mahasiswi kedokteran, patutnya kita mempelajari ilmu yang hanya akan kita enyam selama 3,5 tahun ini dengan penuh kesungguhan sebagai dasar kita mengabdi kepada masyarakat dan melaksanakan nilai-nilai kedokteran.

Perjuangan kita tak terhenti sampai disitu saja, kita harus terus berjuang dalam pengabdian kita kepada masyarakat kelak. Karena kita seorang dokter, berarti kita bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat di sekitar kita. Kita diajarkan untuk menjadi dokter yang komunikatif, kooperatif, dan terampil ketika bertemu dengan pasien, objek keilmuan kita. Sabar, penuh simpati, dan cerdas juga sangat ditekankan  dalam menghadapi seorang pasien. Tentunya, semua ilmu yang harus kita dapatkan tersebut tidaklah disediakan secara total oleh institut pendidikan. Oleh karena itu kita harus aktif mencari dan belajar ilmu-ilmu tersebut di luar jadwal belajar kita, misalkan saja dengan mengikuti organisasi. Dengan terus beristiqomah dan berniat sungguh-sungguh maka akan banyak ilmu yang kita dapatkan dari mengikuti sebuah organisasi, apalagi kita menjadi anggota aktif di dalamnya. Menambah relasi, belajar memahami orang lain, belajar berkomunikasi, belajar memutuskan suatu persoalan, dan belajar menjadi pembimbing untuk orang lain merupakan beberapa contoh real yang akan kita terapkan di masa depan.

Sayangnya, perjuangan keras yang kita enyam di bangku kuliah dan prinsip idealisme yang kita pegang selama menjadi mahasiswa tidak selalu tercermin dalam pola pikiran kita ketika kita mengabdi. Banyak dokter-dokter yang lebih memilih meniti karier di kota sehingga banyak daerah pedalaman dan pedesaan di Indonesia kekurangan tenaga medis. Dokter-dokter itu lebih memilih mendirikan banyak rumah sakit swasta di perkotaan untuk menampung lapangan kerja mereka. Dengan banyaknya rumah sakit swasta ini tentunya mereka juga akan menerapkan biaya lebih tinggi dari rumah sakit pemerintah yang banyak menerima subsidi. Akibatnya, banyak masyarakat yang enggan pergi ke rumah sakit dengan alasan tidak memiliki uang. Hambatan di pedalaman membuat mereka takut dan ciut nyali untuk menunaikan tugasnya. Akibatnya banyak masyarakat Indonesia yang tidak tersentuh tangan-tangan medis. Parahnya, dengan membandingkan jumlah lulusan kedokteran dan jumlah dokter profesional itu sendiri kita menjadi tahu bahwa ternyata selama ini beberapa universitas yang berani mengadakan pendidikan kedokteran tidak secara tegas mendidik mahasiswa-mahasiswanya untuk menjadi tenaga medis yang profesionalitas. Profesionalitas dalam artian adalah kualitas dan kapabilitas. Ketika mereka memilih untuk mengajarkan ilmu murni kedokteran dan mengabaikan untuk mengajarkan ketrampilan-ketrampilan lain di luar itu, maka komitmen mereka dipertanyakan. Mereka tidak berhasil mendidik anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang berdedikasi untuk negeri, mereka gagal untuk turut berperan memajukan negeri ini. Lalu, apa yang mereka cari? Apakah mereka sudah melakukan prosedur penyaringan mahasiswa baru dengan prosedur dan pertimbangan yang benar? Apakah niat mereka memang sudah benar dengan tidak untuk mencari ketenaran semata?

Sementara itu, beberapa kalangan berpendidikan menilai bahwa mahasiswa-mahasiswa kedokteran sekarang ini adalah mereka yang ingin enaknya saja. Dalam artian mereka agak susah untuk diajak hidup sederhana dan kerja keras. Banyak yang mendapati mereka para mahasiswa kedokteran adalah anak-anak dari orang-orang berada, sehingga dengan gengsi lingkungan yang tinggi terhadap citra kedokteran, mereka semakin menjadi-jadi. Masyarakat mulai menilai bahwa sekolah kedokteran hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak hanya pintar, tetapi lebih diutamakan bagi mereka yang beruang. Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab berdasarkan apa yang mereka lihat sehari-hari, banyak mahasiswa kedokteran yang kini beralih menggunakan barang-barang mewah dan melakukan segala hal semau mereka. Terkadang itu bisa dimaklumi karena memang sebagian dari mereka adalah orang berada, selama mereka tidak berlebih-lebihan. Namun, kita semua tahu bahwa untuk masuk ke sekolah kedokteran telah dilakukan ujian saringan, dan itu tidaklah mudah mengingat banyak sekali pelajar yang mendaftar di sekolah kedokteran. Mereka yang lulus berarti mereka yang benar-benar memiliki kapabilitas untuk mengikuti pendidikan di sekolah kedokteran tersebut, entah mereka kaya atau miskin. Satu hal yang pasti, jika kita memang percaya terhadap sistem ujian saringan masuk yang dilakukan berdasarkan kepandaian peserta semata dan bukan berdasarkan kondisi keuangan atau kebatinan, maka kita harus siap menerima bagaimanapun kondisi mahasiswa itu sekarang. Dan sebenarnya itu adalah tugas institut untuk membimbing mereka menjadi manusia-manusia yang dapat diteladani oleh masyarakat dengan bersikap santun dan sederhana, terlepas dari apa yang mereka punya dan apa status keluarga mereka.

Namun, saya berani menegaskan bahwa tidak semua mahasiswa kedokteran berlaku seperti halnya yang saya sebutkan di atas. Sebagian dari mereka adalah orang-orang berani yang benar-benar berjuang keras untuk meraih cita-cita mereka dan membantu sesama. Mereka rela prihatin dan menyingkirkan ego pribadi mereka untuk dapat belajar ilmu kedokteran ini dengan benar. Mereka selalu ingat bahwa disana masih banyak saudara-saudara kita yang menjerit untuk meminta bantuan, saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita saat ini, dan saudara-saudara kita yang memiliki harapan besar di tangan para ahli medis untuk menyembuhkan orang-orang berharga di sekitarnya. Tentunya untuk menjadi tenaga ahli medis yang profesional, sebagai mahasiswa kedokteran tidak hanya bergantung kepada institut saja, namun juga harus bisa bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, terhadap setiap perbuatan yang kita lakukan sendiri.


Referensi :
Legana, Moch Husen Hadi 2012. Semua Tentang Islam : 10 Prinsip Menuntut Ilmu. Dilihat 16/03/2013, 22:00. <http://www.semuatentangislam.org/2012/10/10-prinsip-menuntut-ilmu.html>
Segal, Erich 2010. Doctors. Dewsburry International : Canada, Phillipines

Comments

Popular Posts